Dunia lain di Indonesia (Taman Nasional Komodo)

Sebagian besar orang Indonesia yang suka bepergian pasti ingin sekali menginjakkan kakinya di salah satu destinasi favorit para petualang yakni Taman Nasional Komodo. Termasuk saya salah satunya. Tidak hanya terkenal di antara para pelancong domestik, Taman Nasional Komodo cukup dikenal di kalangan turis mancanegara.

This slideshow requires JavaScript.

Tidak salah jika berkunjung ke Labuan Bajo, pintu masuk Taman Nasional Komodo, akan banyak ditemui restoran sederhana bergaya eropa dan juga para turis asing yang berlalu lalang ketimbang turis domestik sendiri. Ya, melihat komodo liar di habitat asli secara langsung menjadi sebuah pengalaman tersendiri untuk banyak orang. Tidak salah jika Taman Nasional Komodo mulai semakin dilirik diikuti dengan semakin berkembangnya fasilitas penunjang sektor pariwasata di sana.

Untuk memulai perjalanan melihat komodo di habitat aslinya, kita dapat memulainya dari sebuah kota pelabuhan kecil bernama Labuan Bajo sebagai pintu masuk Taman Nasional Komodo. Labuan Bajo sendiri merupakan sebuah desa pelabuhan yang asal muasal penamaannya berasal dari suku bajo, sang penakluk samudera dari Sulawesi, yang melancong hingga jauh ke flores.

Pelabuhan Kecil di Labuan Bajo
Pelabuhan Kecil di Labuan Bajo

Menuju Labuan Bajo dapat ditempuh baik melalui jalur laut maupun udara. Saat ini, Bandar Udara Komodo telah disulap menjadi semakin lebih cantik dan megah untuk mengakomodasi banyaknya turis asing yang berdatangan. Sayangnya, landasan dan fasilitas kedirgantaraan bandar udara tersebut belum cukup menampung pesawat jet berbadan besar sehingga hanya mampu menampung pesawat bermesin baling-baling. Padahal saat ini pariwasata di pulau tersebut tengah menggeliat.

Ada dua maskapai besar yang rutin terbang menuju Bandar Udara Komodo baik dari Denpasar maupun Kupang yakni Wings Air dan Garuda Indonesia. Perjalanan melalui jalur laut pun dapat ditempuh dari Pulau Bali yang tentunya memakan waktu sedikit lebih lama. Tetapi menggunakan kapal feri dari Bali tentunya akan sangat menekan pengeluaran ketimbang menggunakan transportasi udara.

Untuk mengeksplorasi keindahan gugusan pulau-pulau di Taman Nasional Komodo, tidak cukup waktu satu hari. Setidaknya dibutuhkan kapal cepat untuk mengeskplorasi gugusan pulau di Taman Nasional Komodo dalam waktu satu hari. Jika menggunakan kapal biasa, diperlukan waktu minimal dua hari dengan menginap satu hari di atas kapal. Bagaimana cara menyewanya? Kita dapat menyewa  kapal yang bersandar di pelabuhan untuk mengeksplorasi keindahan Taman Nasional Komodo.

Sedikit tips untuk yang ingin menyewa kapal di Labuan Bajo, semakin besar serta semakin banyak fasilitas di dalam kapal maka akan semakin mahal harga sewanya. Namun, jika dana yang dimiliki terbatas, kita dapat bergabung dengan wisatawan backpacker lain untuk patungan menyewa kapal yang sederhana.

Kamar Tidur Kecil untuk 2 orang di Kapal Yang Kami Sewa
Kamar Tidur Kecil untuk 2 orang di Kapal Yang Kami Sewa

Sebagai contoh, karena saya mendapatkan kesempatan ke sana dalam acara jalan-jalan akhir tahun dari kantor, kapal yang kami sewa cukup mahal seharga 25 juta rupiah untuk dua hari satu malam. Kapal tersebut terdiri dari 8 kamar sederhana yang dilengkapi pendingin udara (AC) serta dapat menampung maksimum 20 wisatawan dengan 3 anak buah kapal. Listrik pun tersedia di atas kapal dari generator yang disediakan sebagai sumber energi listrik. Untuk makanan pun kami tidak perlu khawatir karena telah disediakan oleh pemilik kapal.

Sedangkan jika menyewa kapal yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu mahal, harga sewa berkisar 3-5 juta untuk 2 hari 1 malam tentunya sudah dengan fasilitas makan dan minum walau tidur hanya beralaskan matras. Selain itu, jangan segan untuk menawar karena biasanya jika kita langsung menyewa di pelabuhan, kita akan tawar-menawar dengan anak buah kapal bukan terhadap pemilik kapal secara langsung. Anak buah kapal biasanya mematok harga sedikit lebih tinggi daripada pemilik kapal. Tentunya jika kita sudah tahu siapa pemilik kapal, harganya akan jauh lebih murah lagi.

Selamat Datang Di Taman Nasional Komodo
Selamat Datang Di Taman Nasional Komodo

Komodo merupakan binatang endemik khas Nusa Tenggara peninggalan jaman purba. Binatang ini, konon, merupakan salah satu jenis reptil terbesar yang masih hidup semenjak kepunahan dinosaurus. Komodo banyak ditemukan di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, dua pulau terbesar yang ada di Taman Nasional Komodo. Jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor di masing-masing pulau. Namun tidak hanya di kedua pulau tersebut komodo dapat dijumpai. Hewan ini dapat terlihat di pulau Padar dan Nusa Kode yang masih merupakan ruang lingkup Taman Nasional Komodo walau jumlahnya tidak sebanyak di Pulau Komodo dan Rinca.

018
Pulau Komodo

Ada yang membedakan Komodo di Pulau Komodo dengan Komodo di Pulau Rinca. Ranger (sang penjaga taman nasional) tidak pernah memberi makan Komodo. Mereka membiarkan Komodo untuk hidup secara alami. Nah, komodo di Pulau Rinca sedikit lebih agresif dibandingkan dengan yang ada di Pulau Komodo. Sedangkan yang ada di Pulau Komodo sedikit lebih pasif karena terbiasa dengan pengunjung. Walau begitu kita harus tetap hati-hati bahwa kita tentu tidak tahu apa yang ada pada insting hewan.

Komodo sangat sensitif terhadap bau darah bahkan dari sumber bau yang jaraknya belasan kilometer. Untuk itulah, para wanita yang sedang menstruasi diharapkan tidak berkunjung atau mungkin memberi tahu ranger terlebih dahulu untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Atau jika kita sedang memiliki luka yang terbuka, diharapkan memberi tahu ranger. Hal ini didasari karena gigitan komodo sangat mematikan.

Komodo tidak memakan buruannya secara langsung setelah gigitan pertama. Biasanya setelah gigitan pertama, komodo akan melepaskan buruannya kembali dan membiarkannya hidup. Namun bukan berarti komodo itu binatang yang baik dan cukup aman. Air liur komodo mengandung ribuan jenis bakteri mematikan yang akan membuat siapapun yang telah digigitnya mati secara perlahan. Liur tersebutlah yang membuat komodo sangat berbahaya. Setelah buruannya mati, komodo lalu akan memakannya.

Komodo merupakan hewan yang senang menghangatkan diri dengan berjemur. Biasanya kita dapat menemui komodo sedang berjemur di pantai atau di bukit dengan savanah terbuka. Satu hal lagi yang perlu diwaspadai terhadap sikap komodo adalah ketenangan komodo. Yang patut diperhatikan adalah komodo terkadang bersikap pasif atau diam bukan berarti mereka sedang tertidur atau beristirahat. Bisa saja mereka sedang memperhatikan calon mangsa dan siap untuk menerkamnya secara tiba-tiba.

Selain itu, komodo juga dikenal sebagai hewan kanibal. Ketika musim bertelur tiba, komodo akan membuat sebuah lubang sebagai sarang untuk bertelur namun juga akan membuat lubang lainnya sebagai lubang samaran agar telur-telurnya tidak dimangsa oleh predator. Setelah bayi-bayi komodo menetas, mereka terancam oleh induk mereka sendiri karena induk bayi-bayi komodo akan memakan bayi-bayi tersebut.

Burung Maleo pun Dapat Ditemui di Pulau Rinca
Burung Gosong Endemik Khas Taman Nasional Komodo

Selepas menetas, bayi-bayi komodo biasanya langsung memanjat pohon agar tidak diterkam oleh induk mereka sendiri. Itulah mengapa ketika dikejar komodo kita tidak dianjurkan untuk memanjat pohon. Selain karena komodo pun bisa memanjat dengan cakarnya yang tajam, bisa saja kita malah menemui komodo yang telah ada di atas pohon terlebih dahulu.

Keindahan Taman Nasional Komodo tidak hanya melalui keeksotisan hewan endemiknya saja seperti komodo itu sendiri. Kita pun dapat menjumpai burung gosong khas Taman Nasional Komodo. Selain itu, bukit-bukit gersang sangat menarik untuk didaki. Dari atas bukit kita dapat menikmati indahnya Taman Nasional Komodo yang akan membawa kita seperti dunia lain di Indonesia. Ya, saya mengatakan demikian karena ketika mendakinya, saya seperti berada di dunia lain. Hanya hamparan bukit dan lautan saja yang tampak, tidak ada rumah penduduk atau hal lain penunjang kehidupan.

Selain itu, keindahan Taman Nasional Komodo tidak hanya dapat dinikmati di atas permukaan saja. Kurang lengkap rasanya jika berkeliling Taman Nasional Komodo tapi tidak mengintip kehidupan bawah airnya. Banyak terumbu karang dan berbagai macam jenis ikan yang dapat dilihat di Taman Nasional Komodo walau menurut saya keeksotisan bawah airnya belum sampai selevel Karimunjawa. Awak kapal yang kami sewa selalu memancing ikan yang tidak jauh dari pantai. Ikannya? Saya pun sampai dibuat terkejut karena cukup besar dan enak untuk dimakan walau tanpa bumbu sekalipun.

019
Kru Kapal Sedang Memancing Ikan Untuk Makan Malam

 

Ditambah lagi, salah satu pantai yang wajib dikunjungi ketika mengunjungi Taman Nasional Komodo adalah pantai merah muda atau yang lebih dikenal sebagai pantai pink. Ya, pantai ini akan memancar warna merah muda terlebih saat senja tiba. Walau kita dapat berenang di bibir pantai kita tentu patut waspada karena bisa saja kita temui Komodo yang hendak berjemur santai. Sekali lagi kewaspadaan perlu kita jaga ketika mengunjungi Taman Nasional Komodo.

Tidak salah Taman Nasional Komodo menjadi salah satu destinasi favorit baik turis domestik maupun mancanegara. Dengan menawarkan keeksotisan binatang melata komodo sebagai nilai jual utama, pariwasata di Labuan Bajo mulai menggeliat. Namun, ada daya pikat lainnya berupa kehidupan bawah air yang cukup mempesona. Sebagai penikmat wisata alam, saya berharap kearifan lokal masyarakat untuk melestarikan kehidupan flora fauna terus terjaga sehingga Taman Nasional Komodo tidak hanya menjadi salah satu warisan dari Indonesia untuk dunia tetapi juga warisan untuk anak cucu kita kelak.

 

@whawhay – December 2014

Referensi: Kru kapal dan para ranger di Taman Nasional Komodo

2 thoughts on “Dunia lain di Indonesia (Taman Nasional Komodo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s